Franchise Fore: Rincian Investasi & Fasilitas Mitra
Bisnis kopi di Indonesia terus bergerak cepat. Franchise Fore menjadi salah satu opsi yang banyak dibicarakan oleh calon investor dan pengusaha F&B. Tapi sebelum terjun lebih jauh, ada baiknya kita bedah dulu apa yang sebenarnya ditawarkan oleh brand bernama Fore Coffee ini.
Banyak yang penasaran dengan franchise fore kopi karena nama brand-nya yang kuat. Kabar terbaru menunjukkan bahwa model kemitraan mereka tidak sama persis dengan waralaba konvensional. Di artikel ini, kita bakal kupas tuntas skema yang mereka tawarkan, estimasi biaya, plus poin-poin penting yang sering bikin calon mitra berpikir ulang.
Fore Coffee bukanlah brand yang membuka gerbang lebar-lebar untuk siapa saja yang punya uang. Ada seleksi ketat dan model bisnis spesifik yang membedakan mereka dari pemain lain. Hal inilah yang bikin franchise fore coffee menarik untuk dikulik lebih dalam.
Skema Kemitraan Fore Coffee: Bukan Franchise Biasa
Ini poin krusial yang harus kamu pahami. Berdasarkan informasi resmi dari perusahaan, Fore Coffee tidak menawarkan sistem waralaba terbuka. Mereka lebih memilih model pertumbuhan terintegrasi yang dikelola langsung oleh pusat. Tujuannya adalah menjaga konsistensi kualitas dan pengalaman pelanggan di setiap outlet.
Meski tidak ada franchise fee dengan sistem royalti bulanan standar, Fore Coffee membuka peluang kemitraan dengan skema Rental Revenue Sharing. Dalam model ini, mitra atau investor berperan sebagai penyedia fasilitas dan lokasi. Fore Coffee yang mengurus semua operasional sehari-hari. Mulai dari rekrutmen barista, pengadaan bahan baku, hingga strategi pemasaran.
Artinya, kamu sebagai mitra memiliki keterlibatan minimal dalam urusan teknis di dapur dan kasir. Fokus kamu adalah menyediakan aset berupa tempat yang strategis. Keuntungannya, kamu tetap mendapat bagian dari pendapatan bersih tanpa harus pusing mengelola tim. Skema ini jelas berbeda dengan franchise fore coffee kebanyakan yang mengharuskan mitra menjalankan sendiri seluruh operasional.

Brand Fore Milik Siapa?
Bagi kamu yang penasaran dengan brand fore milik siapa, jawabannya adalah Vico Lomar. Ia adalah Co-Founder sekaligus CEO dari Fore Coffee. Vico bukanlah pemain baru di industri F&B. Sebelum mendirikan Fore Coffee pada tahun 2018, ia sudah malang melintang di industri kopi. Termasuk menjadi General Manager di J.CO Donut & Coffee.
Pengalamannya yang panjang membuat Fore Coffee memiliki fondasi operasional yang kuat. Strategi ekspansi mereka pun terukur. Di bawah kepemimpinan Vico, Fore Coffee berhasil mencatatkan pertumbuhan eksponensial. Dari satu gerai pertama di kawasan SCBD, Jakarta, kini mereka memiliki hampir 300 gerai di berbagai kota besar.
Modal dan Estimasi Investasi yang Dibutuhkan
Salah satu pertanyaan paling sering muncul adalah tentang biaya. Untuk franchise fore, biaya investasi sangat bervariasi tergantung skala dan lokasi. Kalau kamu cari informasi di berbagai sumber, angkanya beragam.
Sebuah sumber menyebutkan estimasi investasi untuk model Rental Revenue Sharing dimulai dari Rp1,2 miliar hingga Rp2,5 miliar. Biaya ini biasanya sudah mencakup pembangunan fasilitas dan peralatan utama. Ada juga informasi dari sumber lain yang menyebutkan paket skala kecil mulai dari angka Rp200 juta.
Perbedaan angka ini wajar karena tergantung paket yang ditawarkan. Yang jelas, semua biaya ini adalah untuk menyediakan gerai yang siap operasional. Perlu dicatat, berdasarkan brief khusus, nilai investasi franchise fee untuk bisnis kopi kekinian berada di kisaran Rp5.000.000.000 – Rp10.000.000.000. Angka ini adalah patokan umum industri.
Namun, karena Fore Coffee tidak menerapkan franchise fee konvensional, angka investasi mereka di bawah kisaran tersebut. Yang perlu dicatat, franchise fee belum termasuk biaya renovasi. Di Fore Coffee, biaya renovasi dan penataan interior biasanya sudah dihitung dalam paket investasi awal. Tapi tetap, calon mitra harus memastikan detail ini dalam kontrak.
Harga Franchise Fore Skala Kecil
Kalau kamu mencari berapa franchise fore sekala kecil, jawabannya: ada opsi yang mungkin cocok. Menurut beberapa laporan, Fore Coffee menyediakan paket kemitraan dengan skala berbeda. Paket skala kecil disebut-sebut mulai dari Rp200 juta. Ini tentu lebih terjangkau daripada model Rental Revenue Sharing yang mencapai miliaran.
Namun, detail spesifik dari paket kecil ini tidak dipublikasikan secara gamblang. Berikut poin-poin yang perlu kamu perhatikan:
- Perbedaan paket biasanya memengaruhi ukuran gerai dan fasilitas yang didapat
- Besaran bagi hasil juga bisa berbeda antar paket
- Karena ini bukan skema waralaba murni, biaya renovasi dan peralatan awal belum termasuk
- Tidak semua calon mitra langsung diterima, seleksi lokasi sangat ketat
- Paket skala kecil biasanya untuk kiosk di mal atau area perkantoran
Tim Fore Coffee akan mengevaluasi lokasi yang kamu ajukan. Mereka menilai potensi pasar, demografi, dan aksesibilitas. Analisis mendalam tentang potensi pasar di suatu area adalah kunci sebelum mereka menyetujui kerja sama.

Biaya Tambahan yang Sering Terlewat
Ini bagian yang sering bikin pemilik gerai pusing. Di luar biaya investasi awal, ada banyak biaya tambahan yang muncul. Di bisnis F&B sekelas Fore, biaya tambahan ini bukan mainan. Mari kita bedah satu per satu.
Biaya tambahan yang perlu kamu siapkan:
- Re-training dan Turnover SDM – Industri ritel punya tingkat pergantian karyawan tinggi. Setiap kali ada barista keluar, ada biaya rekrutmen dan pelatihan ulang.
- Biaya Promosi – Meski branding nasional sudah kuat, promosi di tingkat lokal tetap penting. Biasanya ada anggaran khusus untuk pembukaan gerai baru.
- Survey Lokasi – Tim pusat akan melakukan survei mendetail. Mereka menganalisis demografi, daya beli, dan tingkat persaingan di sekitar lokasi.
- Biaya Audit QC – Ada biaya audit kualitas secara berkala. Ini untuk memastikan gerai mitra tetap sesuai standar Fore Coffee.
- Perpanjangan Lisensi – Dalam skema waralaba umum, franchise fee dibayar ulang setiap 5 tahun. Untuk skema Rental Revenue Sharing, detail ini perlu diklarifikasi di kontrak.
Semua poin ini harus dimasukkan dalam perhitungan bisnismu. Jangan cuma fokus pada angka investasi awal. Banyak calon mitra yang gagal karena tidak memperhitungkan biaya-biaya recurring ini.
Berapa Omset Fore?
Ini pertanyaan yang pasti bikin penasaran calon investor. Berapa omset fore sebenarnya? Berdasarkan laporan keuangan terbaru, PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) mencatatkan kinerja yang sangat solid. Per September 2025, pendapatan perusahaan mencapai Rp1,04 triliun. Angka ini naik 43,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan 291 gerai di Indonesia, omset rata-rata per gerai tentu bervariasi. Lokasi ramai di pusat kota berbeda dengan di area perkantoran pinggiran. Namun secara keseluruhan, performa ini menunjukkan Fore Coffee adalah bisnis dengan traffic tinggi. Potensi pendapatan bagi mitra yang bergabung juga terbuka lebar.
Perlu diingat, omset perusahaan secara keseluruhan bukan omset per gerai mitra. Dalam skema Rental Revenue Sharing, pendapatan yang dibagikan adalah pendapatan bersih dari gerai tertentu. Bukan dari seluruh perusahaan. Jadi, pilihan lokasi tetap menjadi faktor penentu utama.
Proposal Franchise Fore dan Proses Seleksi
Buat kamu yang serius, langkah pertama adalah mengajukan proposal franchise fore. Prosesnya bisa dimulai dengan menghubungi tim Fore Coffee secara resmi. Calon mitra bisa mengirimkan proposal ke alamat email: corporatecommunication@fore.coffee.
Berikut tahapan seleksi yang perlu kamu tahu:
- Tim Fore Coffee akan mengevaluasi lokasi yang kamu ajukan
- Mereka menilai potensi pasar, demografi, dan aksesibilitas lokasi
- Hanya lokasi yang benar-benar strategis yang akan disetujui
- Setelah disetujui, kontrak kerja sama ditandatangani
- Proses pembukaan outlet dimulai dengan pendampingan dari pusat
Tim Fore Coffee akan membantu dari tahap desain interior, pengadaan peralatan, hingga pelatihan awal staf. Salah satu hal yang perlu dicermati dalam proposal adalah profit sharing. Pastikan kamu memahami persentase bagi hasil yang ditawarkan. Jangan ragu bertanya detail tentang perhitungan pendapatan dan potongan biaya operasional.
Keunggulan dan Tantangan Menjadi Mitra
Setiap peluang bisnis pasti punya sisi positif dan tantangan. Begitu juga dengan kemitraan bersama Fore Coffee. Mari kita lihat secara jujur.
Keunggulan menjadi mitra:
- Tidak perlu pusing mengelola operasional sehari-hari
- Fore Coffee sudah punya sistem supply chain dan resep yang teruji
- Brand Fore Coffee sudah dikenal luas, konsumen sudah percaya
- Tidak perlu membangun brand dari nol
- Ada traffic dari pelanggan setia saat gerai baru dibuka
Tantangan yang harus dihadapi:
- Harus punya lokasi yang benar-benar strategis
- Fore Coffee tidak akan menyetujui lokasi yang kurang potensial
- Investasi awal tidak sedikit, bahkan paket kecil butuh Rp200 juta
- Tidak memiliki kendali penuh atas operasional gerai
- Keputusan menu, harga, dan promosi ada di tangan pusat
Jika kamu tipe investor yang ingin lepas tangan, skema ini ideal. Tapi jika kamu ingin aktif terlibat, skema ini mungkin terasa membatasi.

Analisis Pasar Kopi dan Posisi Fore Coffee
Tren konsumsi kopi di Indonesia terus meningkat dalam dekade terakhir. Masyarakat tidak lagi melihat kopi sebagai sekadar minuman. Kopi sudah menjadi gaya hidup. Fore Coffee hadir di tengah persaingan yang cukup ketat dengan pemain besar.
Mereka mengusung konsep specialty coffee dengan harga terjangkau. Kualitas biji kopi yang digunakan adalah biji pilihan dari petani lokal. Dengan 291 gerai dan pendapatan Rp1,04 triliun, Fore Coffee membuktikan model bisnis mereka berhasil.
Bagi calon mitra, ini adalah sinyal positif. Bergabung dengan brand yang sudah mapan mengurangi risiko. Tapi sekali lagi, model kemitraan yang ditawarkan bukanlah franchise fore kopi konvensional. Kamu harus paham betul skema yang kamu masuki.
Perbandingan dengan Skema Franchise Lain
Untuk gambaran lebih jelas, mari bandingkan Fore Coffee dengan model franchise pada umumnya.
Dalam franchise konvensional:
- Mitra membayar franchise fee di awal
- Setiap bulan membayar royalti (persentase dari omset)
- Mitra bertanggung jawab penuh atas operasional
- Masa lisensi biasanya 5 tahun, harus perpanjang dengan biaya
Di Fore Coffee dengan skema Rental Revenue Sharing:
- Tidak ada franchise fee dan royalti bulanan
- Mitra menyediakan lokasi dan fasilitas
- Fore Coffee yang mengelola semua operasional
- Keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan
- Risiko operasional ditanggung Fore Coffee
Perbedaan ini sangat signifikan. Potensi keuntungan mitra mungkin lebih rendah. Tapi risiko operasional juga lebih kecil. Pilihan tergantung pada profil investasi dan toleransi risiko masing-masing.

Kenapa Harus Referensi dari Majalahfranchise.co.id?
Untuk urusan bisnis franchise fore dan peluang usaha lainnya, referensi kredibel itu penting. Majalahfranchise.co.id adalah media yang konsisten mengawal industri waralaba di Indonesia. Mereka tidak cuma ngasih berita, tapi juga riset dan penghargaan seperti Indonesia Franchise of The Year.
Daripada cuma andalin informasi dari mulut ke mulut, lebih baik cek data di Majalahfranchise.co.id. Mereka punya arsip tentang berbagai bisnis, tren pasar, dan tips sukses. Kamu bisa pelajari bagaimana model Rental Revenue Sharing dibandingkan model waralaba konvensional.
Yang lebih penting, Majalahfranchise.co.id menyajikan data terverifikasi dan tidak memihak. Kamu bisa mendapatkan gambaran objektif tentang franchise coffee dan brand-brand lain. Ini membantumu membuat keputusan investasi yang lebih matang.
Nah, buat kamu yang serius mempertimbangkan franchise kopi, kunjungi langsung website majalahfranchise.co.id. Di sana kamu bisa menemukan pembahasan lebih detail dan data terbaru.
Kesimpulan
Jadi, apakah Fore Coffee membuka franchise? Jawabannya abu-abu. Mereka tidak membuka waralaba konvensional dengan franchise fee dan royalti. Namun, mereka membuka pintu bagi investor melalui skema Rental Revenue Sharing. Kalau kamu punya lokasi strategis tapi tidak mau ribet urusan operasional, skema ini menarik.
Tapi ingat, investasi awal yang dibutuhkan tidak sedikit. Belum lagi biaya-biaya tambahan yang harus disiapkan. Fore Coffee adalah brand besar dengan omset triliunan. Potensi bisnisnya jelas ada. Kamu harus benar-benar cocok dengan model kemitraan yang mereka tawarkan. Sebelum memutuskan, lakukan riset mendalam. Baca kontrak dengan teliti. Konsultasikan dengan konsultan bisnis atau pengacara yang berpengalaman di bidang waralaba. Jangan tergiur janji keuntungan tanpa memahami risiko dan kewajibanmu sebagai mitra. Kalau masih penasaran, cek referensi di Majalahfranchise.co.id.